Tempat Budidaya Taoge Berhasil Menyita Perhatian Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus Di Desa Tumpangkrasak Lakukan Observasi
Kudus –
Tumpangkrasak,Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN-IK) 2021
IAIN Kudus telah mengadakan kegiatanobeservasi guna menggali informasi mengenai
tempat budidaya salah satunya Budidaya Taoge (Kecambah) melalui wawancara
dengan owner (pemilik) usaha kecil di Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati,
Kabupaten Kudus, pada tanggal Rabu13 September 2021.
Pada umunya, kecambah
atau tauge adalah tumbuhan muda yang baru berkembang dari tahap embrionik di
dalam biji kacang hijau. Dalam pembuatan kecambah dibutuhkan biji-bijian atau
kacang-kacangan yang sehat, tidak busuk dan bersih dari pestisida serta
lingkungan yang optimal berupa ruang gelap, lembap, dan kadar air yang cukup
untuk perkecambahan biji-bijian tersebut. Pertama-pertama disiapkan wadah
berlubang dengan dasar yang datar. Kemudian di bagian dasarnya dilapisi dengan
kapas atau kain yang merupakan tempat menyebar benih atau biji. Pada tahap awal
produksi, dilakukan pencucian dan perendaman benih selama 6-8 jam dengan air
kemudian benih disebar di alas kain yang telah disiapkan sebelumnya. Setiap 2-3
kali dalam sehari dilakukan penyiraman dengan air bersih. Setelah 3-5 hari,
kecambah sudah dapat dipanen. Proses pembuatan kecambah ini dapat dilaukan
sepanjang tahun dan dapat dilakukan pada musim apapun.
Menurut pemilik
budidaya taoge di Desa Tumpangkrasak yang terletak di RT 04 RW 05, Budidaya
taoge inididirikan kurang lebih 12 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2009. Istri
pemilik budidaya taoge ini mengatakan bahwa suaminya mempunyai ide usaha ini
berawal dari mengikuti jejak kakaknya yang mendirikan usaha yang sama. Untuk
kisaran harga yang ditetapkan owner mulai dari bulan puasa berkisar Rp 7.000-,
per kilogram taouge. Sebelum puasa harga taoge di pasarkan seharga Rp 4.500-,
per kilogram.
Pemasaran yang
dilakukan oleh owner budidaya taoge ini cenderung dipasarkan ke pasar-pasar
tradisional, salah satunya di Pasar Bitingan Kudus. Selain dipasarkan ke pasar
tradisonal taoge ini juga para pelanggan mengambil taoge langsung ke tempat
produksi budidaya taoge.
Untuk mendirikan
usaha ini owner menggunakan modalnya sendiri tanpa melibatkan pihak eksternal.
Dari usaha ini owner mendapatkan keuntungan yang tidak stabil sering mengalami
naik turun di setiap bulannya. Kemudian dari keuntungan tersebut owner gunakan untuk
memutar kembali penghasilannya dalammemproduksi taoge.
Dalam usaha
taoge, tantangan paling utama tertuju pada air yang bersih serta kacang hijau
yang berkualitas baik, kering, dan tidak busuk. Owner mengatakan bahwa air yang
biasa digunakan dalam budidaya taoge ini memiliki kedalaman 100 meter lebih
baik karena air dengan kedalaman tersebut memiliki ciri yang bersih dengan
tingkat keasaman (PH) stabil.
Red:
Hilda & Vinka